Skip to main content

Tentang Rasisnya Orang Turki


Orang Turki merupakan orang yang sangat nasionalis. Mereka sangat mencintai tanah air mereka, daerah mereka dan tentunya kebudayaan mereka. Maka kalau di Turki kita pasti akan bisa melihat bendera mereka berkibar-kibar di sepanjang jalan. Dimanapun pasti banyak bendera merah bergambar bulan bintang putih itu didikibarkan.
Namun sayang sekali, dengan nasionalisme yang tinggi ini pula mereka sangat rasis dengan kelompok atau negara lain. Inilah yang terkadang membuat kita (orang Indonesia) disini sedikit kurang suka dengan kelakuan mereka, apalagi jika sudah mulai membahas tentang isu-isu kedaerahan, ras dan golongan.

Saya akan menceritakan 4 pengalaman yang pernah terjadi pada saya tentang rasisnya orang Turki ini.

1. Pakai Bahasa Turki Dong !
Waktu itu saya bersama dua orang teman sedang belajar di sebuah kafe di tengah kota Ankara. Kami belajar dengan menggunakan bahasa Indonesia. Karena kami semua adalah orang Indonesia, jadi kita memakai bahasa Indonesia ketika bericang-bincang. Tapi ternyata, ketika kami sedang asyik-asyiknya berbincang ada Bapak-bapak Turki menegur kami. "Kalian disini pelajar ya ?" "Iya" kami menjawab singkat. "Kalau pelajar kenapa kalian gak ngobrol pakai bahasa Turki. Kalau kalian terus ngobrol pake bahasa kalian, sama saja kalian bukan di Turki. Pakai bahasa Turki dong! Kalau misal saya di Inggris lalu ketemu orang turki disana, pasti kita ngobrol juga pakai bahasa Inggris", bapak itu terus mengoceh, Aku hanya diam sedang satu temanku menjawab dengan sedikit emosi. Namun pada akhirnya kami minta maaf ke bapak itu. Kenapa kita harus dipaksa untuk berbahasa Turki sedang kita sma-sama orang Indonesia. Walaupun agak kesal namun kami sudah paham dengan karakter rasisnya orang disini. Kami pun tidak percaya kalau semisal bapak itu ke luar negeri, terus ketemu orang Turki dan akan ngobrol dengan bahasa negara itu. Pasti pakai bahasa Turki juga sih. 

2. Sudah Gak Usah Bicara, Saya Pusing!
Waktu itu, saya sedang dalam perjalanan pulang ke Asrama dari kampus bersama seorang teman Indonesia dengan menggunakan kereta bawah tanah. Kami ngobrol banyak hal kesana kemari, tentunya dengan bahasa Indonesia. Namun ternyata ada ibu-ibu yang duduk di samping kami agak risih mendengar kami berbicara dengan bahasa Indoenesia. Lalu dia membentak "Sudah gak usah bicara, saya jadi pusing mendengar kalian". Kami hanya diam, gak mau membuat keributan dalam kereta bawah tanah itu. Sedikit sebel, ya itu hak kami mau ngobrol pakai bahasa apa dan dimana. Tapi kenapa dengan ibu itu ? rasis.

3. Buang Itu, Atau Aku Yang Akan Buang !
Sudah sepantasnya ketika baru balik dari Indonesia, saya dan juga teman Indonesia lain pasti membawa oleh-oleh khas Indonesia, termasuk membawa barang yang sekiranya tak bisa ditemukan di Turki. Nah, waktu itu saya tak lupa membawa minyak kayu putih dari Indonsia. Karena di Turki memang tidak bisa ditemukan minyak tersebut. Waktu itu ketika badan saya sedikit meriang dan demam, saya mencoba menggunakan minyak kayu putih, dengan meluluri badan saya agar hangat. Ketika usai meluluri, ternyata bau minyak agak menyengat di kamar saya. Hingga akhirnya ada teman Turki yang langsung ngomong ke saya "Ini bau dari minyak kamu itu Rid?" "Iya" Jawab saya. "Bau nya gak enak banget. Kaya bau limbah. Buang minyak itu, atau aku yang akan buang!". OMG !!! Saya hampir marah waktu itu, tapi saya menahannya. "Sabar Rid" lirih saya dalam hati. Karena saya juga sedang sakit waktu itu. Saya tidak mau mendengarkan kata-kata dia lagi setelah. Biarlah dia mau bicara apapun kepad saya. Saya juga hak saya memakai minyak kayu putih ini. hehe..

4. Buka Tas Kamu !
Waktu itu sedang panas-panasnya politik di Turki. Hingga banyak sekali bom yang mengguncang Turki, termasuk di kota Ankara. Nah, karena hal itu maka penjagaan di setiap tempat semakin diperketat. Bahkan untuk masuk di asrama pun diperketat dengan menggunakan alat pendeteksi bahaya sebelum masuk ke asrama. Waktu itu saya baru pulang dari kampus, ketika mau masuk asrama bersama orang-orang Turki lainnya yang baru sampai. Ketika mereka masuk mereka di cek dengan alat pendeteksi, ketika saya mau masuk saya di cek juga. Tapi anehnya saya sampai disuruh membuka tas saya, dan si petugas itu menggeledah tas. Padahal sebelum saya, orang-orang Turki tadi tidak disuruh membuka tas, apalagi menggeledah. Bahkan orang yang datang setelah saya pun tidak disuruh demikian. Kenapa hanya saya yang disuruh demikian. Kenapa dengan satpam itu yang terlalu curiga dengan orang Asing ? It's Rasis !

Nah, dari cerita itu keliatan banget kan kalau orang Turki emang bener-bener rasis. Selain itu masih banyak dari kisah teman-teman disini yang juga menjadi korban kerasisan mereka. Tapi kami mencoba bersabar, dan menerima. Karena kami tahu, begitulah mereka. Walaupun di satu dua hal, kami juga terkadang marah dan tak bisa mengendalikan emosi untuk menanggapi kerasisan mereka itu. 

Comments

Popular posts from this blog

UNIVERSITAS DENGAN JURUSAN ISLAMIC STUDIES TERBAIK DI TURKI

Turki memang masih merupakan negara sekuler, namun perkembangan islam juga begitu pesat disini. Bahkan sudah banyak sekali universitas-universitas di Turki yang membuka jurusan islamic theology atau dalam bahasa Turki nya jurusan ilahiyat. Sampai saat ini tercatat ada 84 Fakultas ilahiyat yang sudah dibuka di Turki, walaupun baru 46 yang dibuka untuk menerima murid baru. Ini membuktikan bahwa geliat belajar islam di Turki sudah sangat signifikan dibanding tahun 90an. Nah, diantara banyak universitas-universitas yang telah membuka jurusan islamic Theology ini universitas mana saja yang tergolong baik dalam jurusan islamic Studies nya ? Saya akan ringkas beberapa kampus yang memiliki jurusan ilahiyat terbaik di Turki. Berikut ulasannya :                   1.        Marmara University Marmara University merupakan salah satu kampus yang memiliki jurusan Islamic Theology yang bagus. Untuk di Turki sendi...

Berita-berita Tribunnews Adalah Clickbait, Apa Benar ?

Peserta Pelatihan Sedang Mendengarkan Presentasi Tentang Pelanggaran Pers (19/6/2019) Tribunnews mengadakan acara pelatihan untuk reporter baru bertema “kode etik jurnalistik” rabu (19/6/2019). Acara yang diisi oleh Febby Mahendra Putra, seorang wartawan senior sekaligus pengacara untuk Tribunnews tersebut dihadiri oleh 70 orang reporter baru. Acara tersebut diadakan di kantor Tribunnews Solo, Klodran, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Dalam penyampaiannya, Febby menjelaskan tentang aturan dan hukum dalam penulisan pers. Febby menjelaskan tentang pasal-pasal yang mengikat pers, aturan penulisan pers dan dewan pers serta membagikan contoh kasus dari media Tribunnews yang merupakan pelanggaran pers. Contoh pelanggaran pers yang disampaikan bermacam-macam, mulai dari mengandur unsur SARA, kekerasan, vulgar atau sensualitas hingga clickbait yang selama ini sangat populer. Dari macam-macam jenis pelanggaran yang ada, banyak sekali ditemuklan pelanggaran jenis clickbait...