Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2014

Melepas Penat Saja

Teman Tomer Angin pagi di Ankara hari ini kembali menusuk dan menapar muka melasku, suhu yang muncul dilayar hapeku juga menunjukan minus tak karuan. Ada apa sebenarnya dengan penghujung musim dingin ini ? Apakah akan salju yang turun lagi ? Atau akankah suhu hari ini hanya suhu biasa yang akan menutup musim dingin bulan ini ? Ah, aku tak bisa menjawabnya pagi ini juga. Karena aku telah telat beberapa puluh menit untuk berangkat ke kampus TOMER. Berasa seperti anak yang ditinggal orang tuanya pergi, aku seperti ingin merengek untuk ikut tapi telah telat. Tapi ketelatanku beberapa hari ini mungkin masih bisa dimaklumi oleh guru baruku yang 'disiplin'nya tingkat dewa itu. Karena walupun telat aku tak pernah absen untuk mengumpulkan pr ku, aku juga tak pernah berkelakuan aneh dikelas. Aku baru mencoba untuk hal baru yang biasanya tak pernah aku lakukan. "telat". Mendung tebal yang bertengger dilangit ankara pagi ini sepertinya tak segera jatuh lagi seperti kemar...

Ia Adalah Menulis Kehidupan

Pagi hanya pagi, siang tetap siang, malam juga menjadi malam. Tapi, kalau hari ia berubah minggu, minggu berubah bulan, hingga bulan berganti tahun. Pun dengan yang namanya sebuah kehidupan, refleksinya tak sekadar refleksi lukas penuh diam. Ia bagaikan harian, mingguan, bulanan hingga tahunan yang terlewat dalam barisan waktu. Tak seperti pagi, malam dan siang yang sekedar berlalu tanpa hitungan. Adakah hitungan untuk sebuah pagi ? Atau angka untuk sebuah siang malam yang berlalu penuh kenangan ? Ia tak pernah ada, tapi kalau hari, minggu, bulan dan tahun ia tercatat rapi dengan hitungan penuh yang tak pernah kita tau kenapa bentuknya huruf satu tegak berdiri, angka dua seperti angsa dan seterusnya. Intinya hidup itu sebenarnya sebuah hitungan. Hidup itu ada batasan, dan hidup itu penuh dengan angka. Tapi sekali lagi, saya bukanlah seorang ahli hisab atau ahli hitung yang seharian bergelut dengan angka dan hitungan penuh kebingungan. Saya hanya seorang farid, yang dulu pernah menjab...

Anak Kecil dan Sebuah Perpisahan

Hari itu langit kota ankara mendung, sejak sedari malam mendungnya sudah bergelayut di langit yang biasanya cerah itu. Nampaknya langit juga merasa akan ada sesuatu yang hilang di Ankara. Ia seperti tau bahwa di antara penduduk negeri seberang benua ini ada seorang yang tergagap menangis di pojok kamarnya sejak malam itu. Langit seperti bisa merasakan hal yang sama dirasakan oleh anak kecil itu. Anak kecil itu menangis karena temannya yang harus kembali bersama orangtuanya ke rumah asalnya di tempat yang ia tak bisa melafalkannya dengan baik. "Endosia", ia hanya bisa mengeja tempat itu sekena lidahnya mengeja. Ia pun tak pernah tahu berapa lama teman itu di tempat asalnya nanti. Dan apakah ia akan kembali kesini, iapun tak pernah mengerti. Makanya anak kecil itu sesegukan dalam airmata kecilnya yang menetes deras. Sepertinya ia ingin melaporkan apa yang ia rasakan itu pada orang tuanya. Namun, ia berpikir bahwa orang tuanya tak pandai mengerti perasaan anak-anak. Duni...

Rindu dari Negeri Sebrang Benua

Sudah hampir 2 bulan saya tak bisa menghubungi orang tua lewat video call skype. Tentunya itu bukan karena tak ada alasan, tapi karena laptop di rumah sedang rusak. Dan setelah di repair alias diperbaiki orang rumah tak bisa mengistal ulang aplikasi skype. Entahlah, sampai kapan hingga akhirnya skype bisa dipakai lagi. Karena tak ada aplikasi lain yang bisa dipakai selain skype. Karena selain skype mudah, tapi juga hemat dan bagus. Tapi, hari-hari ketika tak bisa menelpon itu saya masih sangat sempat menguhubungi kedua orang tua dengan facebook. Walaupun itu juga hanya beberapa hari dalam seminggu saja. Ketika saya menyempatakan waktu untuk melihat indahnya istanbul itu untung saya tak melupakan kertas kecil itu. Kertas yang aku hadiahkan buat kedua orang tua ku dari sini. "Wahai bapak, ibuku.. Semoga Allah selalu memberi barakah dan kemudahan dalam merawat putra putrimu, Amiin." Salam dari putramu, FARID. Di Istanbul. Hanya itu yang bisa saya hadia...

Ia Adalah Istanbul

"Lihatlah, Burung yang berterbangan itu seperti merasakan sisa-sisa pahlawan disini... Lihatlah, bah laut yang membuncah riang itu seperti masih membawa muatan meriam raksasa... Lihatlah pula, Angin dingin yang bersemilir itu seperti membawa sebuah berita kemenangan agung yang di catat dalam sejarah.. Dan lihat sekali lagi, benteng-benteng itu seperti mengikhlaskan kerangkanya untuk hancur dan rusak karena tembakan peluru yang kuat Dan lihatlah lagi, langkah pasukan seperti masih terdengar dari tanah-tanah bumi ini. Lari kudanya seperti masih sayup sayup meronta..." Istanbul, 2 Februari 2013 Sore itu awan di langit-langit kota terlihat cerah. Nampaknya tak akan hujan lagi beberapa hari kedepan. Karena setiap pagi hingga siang langit seperti masih menggambarkan terik matahari yang bercahaya indah. Langit langit kota seperti masih mencintai matahari untuk menjadi pasangan serasi dalam beberapa hari ini. Adalah Ankara yang langitnya biru seperti ingin aku tumpah...