Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2016

KENAPA KITA HARUS MENULIS ?

“Syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu menulis, menulis, menulis.”   (Kuntowijoyo)   1.       Sarana Aktualisasi Diri Jika kita memiliki ide, maka ide itu akan sia-sia jika tidak kita tuliskan. Maka menulis adalah sarana untuk mengaktualisasikan diri, termasuk ide-ide kita. Termasuk dengan menulis akan memuaskan diri jika kita punya uneg-uneg. Misal dengan nulis diary. Nah, Penulis buku “Kekuatan Pena” Eko Prasetyo menyebutkan bahwa langkah pertama untuk menjaring ide adalah kita cukup membawa buku tulis kemana pun kita pergi. Kedua memperbanyak membaca, dan yang ketiga adalah banyak mengobrol hal-hal positif. Setelah ide-ide tertulis dalam buku catatan kita tinggal menuangkan ide-ide ini ke dalam sebuah tulisan. Kita cukup menuliskan apa yang kita bayangkan.    2.        Mendapat Pendapatan Sebagai mahasiswa tentunya pemasukan tidak hanya mengandalkan dari orang tua saja. Nah untuk yang biasa m...

Jatuh Bangun Fakultas Ilahiyat (Teologi Islam) di Turki

Istanbul DarulFunun  Istanbul Darulfunun Sejarah dan Asal Mula Pembentukannya Asal mula dibentuknya Fakultas ilahiyat [1] adalah visi utama dari penyatuan antara pemikiran modern dan ilmu keislaman di universitas turki pada zaman kekhalifahan usmani. Ini terjadi ketika usmani mulai mengadopsi banyak ilmu dan sistem pendidikan barat di awal abad 18-an . Dan dengan itu pula, maka era model madrasah seperti Fatih dan Sulaymaniye [2] akhirnya tergantikan oleh adanya madrasah dengan nama Darul Funun [3] di tahun 1846. Dan di tahun tersebut dimulailah sistem belajar islam yang juga mencampurkan pemikiran modern. Pembelajaran pertama ini dimulai di tahun 1864, namun sayangnya madrasah ini hanya mampu bertahan sampai tahun 1877. Dari tahun tersebut sampai tahun 1900-an hanya jurusan kedokteran dan hukum yang mampu bertahan. Hingga ketika banyak permintaan, maka dibukalah jurusan baru yaitu sastra. Karena ini merupakan jurusan baru, maka pada waktu itupun jurusan ini m...

Resensi Novel Ayat-Ayat Cinta 2 : TENTANG CINTA DAN PERJUANGAN MEMBUMIKAN ISLAM

Oleh : Abdurrahman Al Farid “Aku ingin cintaku kepada Aisha seperti bunga-bunga makrifat di hari para orang-orang saleh (salehin) dan para nabi. Bunga-bunga makrifat yang tumbuh dari kalimat-kalimat thayibah yang akarnya menghujam ke bumi dan buahnya rimbun di langit. Bunga-bunga makrifat itu tak pernah layu, selalu mekar sepanjang musim. Bunga-bunga makrifat itu begitu indah, keindahannya hanya bisa ditangkap oleh mata batin para pecinta sejati. Bunga-bunga makrifat itu menguapkan aroma keharuman yang menyegarkan ruh, menyegarkan pikiran, jiwa dan raga. Aku ingin cintaku kepada Aisha seperti itu, paman.” (hal. 227-228) Siapa yang tak ingat dengan kisah cinta Fahri dan Aisha yang fenomenal di Ayat–Ayat Cinta? Novel yang booming tahun 2004 dan sudah difilmkan pada tahun 2008. Tentunya kita sudah tak asing lagi dengan penulisnya yang sekaligus telah banyak menulis novel sejenis seperti, Ketika Cinta Bertasbih, Di Atas Sajadah Cinta, Dalam Mihrab Cinta, Pudarnya Pesona Kleop...