Jadilah Pengemban Media Yang Baik *Soal demo di Ankara

Malam ini saya benar-benar merasa sebal. Sebal karena saya akhirnya benar-benar terjebak di sekumpulan demonstran yang berdemo keras di daerah guven park, dan kizilay, Ankara. Ah, untung saya bersama seorang kakak tingkat yang baik hati itu. Kami berlari-larian karena akhirnya gas air mata itu benar-benar di semprotkan oleh segerombolan polisi yang berjaga-jaga di tengah jalan. Saya ingat sekali, banyak pejalan kaki yang mulai berlarian tak tentu arah untuk menghindari sengatan gas air mata yang menusuk itu. Hingga saya liat seorang nenek yang terduyung-duyung hampir ambruk karena ingin berlari tapi ia membawa sekarung barang. Andai saya bisa menolongnya, tapi kami terlanjur berlari cepat menghindari gas yang membuat mata dan hidung serasa perih itu.

Malam ini, setelah saya dan teman-teman sekamar melakukan acara makan-makan untuk sekadar perpisahan, karena 2 orang teman sekamar saya yang mau berpindah asrama ke daerah golbase. Yang kemudian kami berpisah di jalan karena acara selesai. Saya bersama seorang kakak tingkat hendak mengambil uang di atm sekadar sebentar saja. Tapi setelah kami keluar dari mesin atm itu ternyata sudah banyak polisi yang berjaga-jaga di tengah jalan. Dan sudah banyak orang berlarian. Saya terheran-heran, apa mungkin sudah disemprotkan gas air mata ya ? Ternyata semakin kami mendekat dengan polisi semakin terasa gasnya. Allah, Allah. Benar-benar sudah, ternyata demo yang sudah berlangsung selama kami baru turun dari otobus hingga sekarang belum reda juga. Demo itu tak lain yaitu ingin menggulingkan pemerintah Alias PM Erdogan. Dan untuk membubarkan para demonstran itu cara terakhir adalah gas air mata. Tapi gas itu juga mengenai kami yang tak sengaja lewat.

Kejadian malam ini sungguh kejadian yang pertama bagi saya. Walaupun beberapa hari yang lalu sudah pernah menemui demo yang seperti ini. Tapi tak sampai terkena gas air mata. Tapi malam ini seperti lebih parah. Kemudian saya banyak berdiskusi dengan kakak tingkat yang mengambil jurusan HI disini. Beliau menjelaskan soal sebab kenapa demo hingga detail. Dan saya juga baru mengetahui sedikit saja soal demo itu. Tapi kesimpulannya memang satu, bahwa orang-orang sekular disini sudah tak tahan ingin menggulingkan perdana menteri yang hebat itu. Dan mereka mencari kelemahan untuk alasan penggulingan itu, yang salah satunya adalah terkait korupsi dan penutupan dershane. Ah, ada ada saja negeri yang langitnya menyembul-nyembul awan putih ini. Yang malamnya ramai oleh lalu lalang pejalan kaki. Apalagi kalau bukan turki.

Kemudian saya jadi teringat dengan pertanyaan orang tua saya yang tadi sebelum berangkat makan-makan sekadar skype sebentar. Abah dan ibu tanya soal demo, *Tapi tadi saya belum tau begitu detail, yang ternyata seperti ini. Dan kemudian jawaban saya sudah bisa saya ungkapkan. Bahwa demo ini hanya biasa saja. Tapi memang media lah yang biasanya terlalu alay dan melebih-lebihkannya. Maka saya hanya berseru bagi saya sendiri. 'Jadilah orang media yang baik farid. Menulislah sesuai apa yang terjadi, jangan melebih-lebihkan sesuatu biar kelihatan heboh'. Uff, Tanganku kemudian pelan mengetik, saya sudah menjadi orang media ya ? Hehe.

#Demo itu hanya biasa saja. Dan tak seperti yang diberitakan di beberapa media yang terlalu heboh.

Malam sabtu di Ankara, 27 Desember 2013.

0 comments