Hujan Pagi Ini Memberi Arti Kehidupan

Hujan yang memberi arti sebuah kehidupan

Ankara berubah mencekam lagaknya tengah hari tiba-tiba tak cerah. Mendung yang menyelimuti langit kota, pagi ini benar-benar tak mampu menahan beban air yang ditanggungnya. Hingga benar-benar jatuh menjadi percikan dan rintikan air riak. Pagi ini tubuhku diam terguyur di keremangan kabut berair cuaca Ankara. Tak ku temui bayangan tubuh seperti hari biasanya. Dan memang sepertinya pagi ini matahari baru kalah saing untuk memperebutkan singgasana langit  hari ini. Hujan, hujan, dan huujaan.

Aroma hujan pagi ini hampir-hampir terasa sama seperti aroma hujan di tanah air. Dan itulah sebab tersendiri yang membuat jiwa terkadang merindu kampung halaman. Aroma hujan tengah hari. Walaupun beraroma mirip tapi ada rupa beda di negeri seberang benua ini. Ada pemandangan yang tak ku temui di waktu hujan mengguyur. Tak lain dan tak bukan ialah mantol hujan bagi para pengendara bermotor dan sepeda. Yups, sejauh yang ku temui di waktu hujan, disini tak ada khas itu, khas hujan bumi pertiwi. Itu karena memang pengguna motor disini sangat jarang ditemui di jalan raya. Hanya berlalu-lalang mobil, bus, truck dan kendaraan beroda empat atau lebih.

*Ketika saya menulis ini, tia-tiba rem dadakan bus yang saya tumpangi begitu mengagetkan. Hampir hampir saya terperosok dan jatuh di bus.

Ah, hampir seluruh penumpang pagi ini terkaget-kaget. Tapi satu hal yang juga tak ku temui. Upatan dari penumpang. Sepertinya mereka pasrah dengan rem dadakan tadi. Semua begitu cepat, dan sepertinya melupakannya pun lebih nyaman di hati mereka. Karena mereka percaya satu hal, bahwa kemudi ini diketuai oleh orang berpengalaman. Siapa lagi kalau bukan pak sopir. Jadi setidaknya mindset mereka terpatri untuk selalu siap dengan kondisi apapun dan menuruti perintah atasan.

Sejurus dengan melayangnya pikiran ku pagi ini. Sejenak ku edarkan pandangan ke bilik jendela kaca bus yang berembun tebal berlapis percikan air hujan. Pandangan ku mengedar keluar, tampak lalu lalang manusia di trotoar samping jalan. Mereka berlindung di payung-payung mungil bak jamur yang mekar karena derasnya guyuran hujan. Ya, untuk selajutnya pikiran kosong ku berlajut. Beda rupa payung disini juga berasa. Beda warna dan ukuran sepertinya lebih tepat untuk digambarkan. Warna payung yang tak beragam, tak ada pelangi, ataupun sekadar tulisan promo, toko kelontong, bank swasta dan nama pabrik layaknya di bumi pertiwi. Pun dengan ukuran, hanya mini kecil-kecil. Tak ada yang besar hinga bisa dibuat berteduh tiga sampai empat. Ah, payung-payung yang mulai bermekaran itu menandakan beda rupa selanjutnya. 

Dan ketika tangan ku menulis kata-kata ini hujan yang mengguyur kota metropolit ini nampak semakin deras. Dan aku belum sampai di tujuan akhir, durak seberang kampus TOMER. 
Semoga dengan turunnya rizki Allah berupa rintikan hujan ini, aku semakin mengerti arti sebuah kehidupan. Bahwa air itu juga membawa sebuah kehidupan di bumi manapun aku berada. 
"Allahumma shoyyiban naafi'ah, Amiin"

Ego Otobus 120,
26 November 2013. 09:00 Waktu Turki.

0 comments