Ia Adalah Istanbul

"Lihatlah, Burung yang berterbangan itu seperti merasakan sisa-sisa pahlawan disini...
Lihatlah, bah laut yang membuncah riang itu seperti masih membawa muatan meriam raksasa...
Lihatlah pula, Angin dingin yang bersemilir itu seperti membawa sebuah berita kemenangan agung yang di catat dalam sejarah..
Dan lihat sekali lagi, benteng-benteng itu seperti mengikhlaskan kerangkanya untuk hancur dan rusak karena tembakan peluru yang kuat
Dan lihatlah lagi, langkah pasukan seperti masih terdengar dari tanah-tanah bumi ini. Lari kudanya seperti masih sayup sayup meronta..."

Istanbul, 2 Februari 2013

Sore itu awan di langit-langit kota terlihat cerah. Nampaknya tak akan hujan lagi beberapa hari kedepan. Karena setiap pagi hingga siang langit seperti masih menggambarkan terik matahari yang bercahaya indah. Langit langit kota seperti masih mencintai matahari untuk menjadi pasangan serasi dalam beberapa hari ini. Adalah Ankara yang langitnya biru seperti ingin aku tumpahkan warna pelangi yang merah, hijau, kuning biru itu dari balik jendela kelasku. Ia nampak indah untuk dijadikan kanvas, iapun indah untuk dijadikan figura. Karena ia benar-benar berwarna biru putih bercahaya matahari.

Sore itu, ketika aku usai selesai dari acara Gebyar 2 Tahun Gema Ilmiah Ankara (GIA) seperti ada sesuatu yang menusuk tulangku. Ia bukan sakit yang terasa begitu nyeri, ia bukan juga perih yang membawa darah dalam luka. Tapi ia adalah sebuah berita yang membuat tulang, jantung dan kepala ku seakan-akan ingin terjatuh perlahan. "Farid, kamu ikut ke Istanbul ya.." Begitu ucap seorang kakak tingkat yang sangat baik itu. "Ah, aku ada TOMER hari senin mas. Kemungkinan kalau hanya sehari akan terasa melelahkan. Lagian kemarin aku juga baru dari istanbul". Jawabku pelan dan sedikit ragu. Aku sepertinya sudah gak punya harapan lagi untuk ke Istanbul. Selain karena TOMER Ankaraku yang mencekam, juga uang bulananku yang menarik sakuku perlahan. "FLP hlo rid, masa' farid gak mau liat saya sambutan. Gak usah mikirin tiket deh. Saya tanggung untuk kesana. Tapi pulangnya sendiri ya." Kata itu seperti menusuk ku. Iya, kata itulah yang menggores jantungku untuk kembali galau apakah aku harus ke Istanbul atau tidak. "Tamam, Saya pikir lagi deh mas". Kata terakhirku sambil berdebar-debar memikirkan sesuatu yang mengejutkan itu.

Sepanjang garis-garis jalan yang aku lewati sore itu, nampaknya hanya kulihat lampu yang mulai dihidupkan. Karena senja yang menghantarkan gelap, maka langit tak memancarkan warnanya lagi. Tak ada yang cukup untuk membuat cahaya dalam remang malam yang dingin itu selain lampu neon jalan dan lampu kota yang berkelip-kelip. Jalan yang ramai dan suhu yang dingin tak pernah menjadi alasan buat penduduk kota ini untuk berdiam diri dalam rumah mereka yang hangat dan nyaman. Karena lampu jalanan itu juga membuat aroma dan rasa nyaman tersendiri bagi mereka, mereka akan melihat itu seperti mereka melihat merekahnya bunga-bunga di taman mereka seusai musim dingin. Mereka melihatnya seakan-akan cahaya lampu itu bisa menggantikan surya di malam gulita. Mereka melihatnya seperti melihat salju yang turun perlahan tak tentu arah dari langit-langit di atas mereka. Mereka sangat menikmatinya. Lampu jalan kota.

Sementara aku, hanya terdiam dalam perjalanan memikirkan apakah malam itu berangkat ke istanbul atau tidak. Dalam suasana seperti itu, bisa saja aku mendapat kesimpulan. Dan benar adanya, aku menjadi teringat lagi kata teman sekamarku dulu. "Napoleon pernah berkata : Jikalau dunia itu di ibaratkan sebuah negeri. Maka Istanbul lah yang paling cocok jadi ibukotanya". Tiba-tiba mataku tak ingin terlelap tidur, tiba-tiba debarnya jantungku tak ingin berhenti cepat, tiba-tiba bibirku mengucap pelan.. "Istanbul.. Aku datang lagi malam ini".

**
Lihatlah betapa indahnya riuh kecil di kota tua ini
Lihatlah riang tawa bocah-bocah di jalan penuh sejarah ini
Lihatlah betapa Allah pernah menciptakan para pemimpin hebat dari tempat ini
Ialah Istanbul, kota dambaan yang tak pernah lekang oleh zaman

Istanbul, 2 Februari 2013
Masjid Aya sofya (sekarang menjadi museum)

Masjid Sultan Ahmet 
Aku benar-benar melihat sebuah keajaiban yang indahnya seperti mozaik dalam aya sofya, aku melihatnya seakan-akan medalyon aya sofya yang bertulis Allah itu bisa aku pegang. Akupun melihatnya seperti melihat indahnya kaligrafi besar di dinding masjid sultan ahmet, aku melihatnya seperti aku berada di atas minaret masjid sultan ahmet yang menjulang tinggi. Ia adalah istanbul, kota dalam negeri, kota dalam agama, kota dalam sabda, kota dalam kuasa, kota dalam mimpi, kota dalam rasa, kota yang penuh dengan kisah.
Istanbul, 2 Feb 2013

0 comments